mengoptimalkan pelaksanaan ujian nasional Dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan di indonesia

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dari tahun ke tahun, sejak pemerintah memutuskan dilaksanakannya Ujian Nasional banyak menuai kecaman meskipun tidak sedikit dukungan yang mengalir. Alasan yang cukup fenomenal dengan kenyataan yang terjadi sekarang, “untuk peningkatan mutu, kualitas pendidikan di negeri ini”. Benarkah alasan tersebut? “kenapa sepertinya mutu atau kualitas pendidikan di Indonesia di bawah negara lain?” Pertanyaan yang sangat bagus atau ironis terhadap pendidikan di negeri ini?
Jika pertanyaan semacam ini memang berfungsi untuk memotivasi peningkatan mutu agar lebih baik, bisa jadi ini pertanyaan yang lumrah dilontarkan oleh para calon guru di Indonesia. Dengan selalu penilaian kualitas pendidikan di bawah negara lain, bisa jadi hal ini mestinya semakin memacu motivasi terutama bagi para calon guru tadi untuk meningkatkan kualitas pendidikannya lewat “bagaimana menjadi guru yang baik, efektif, efisien dan berkualitas”. Bukankah pemerintah telah merangsang dengan adanya sertifikasi guru dan dosen? Namun jika pertanyaan semacam ini bersifat keputus-asaan.
Media informasi yang sekarang berkembang begitu pesat ternyata belum mampu untuk menampung berbagai informasi dari bidang pendidikan. Banyak sekali informasi prestasi anak negeri yang sudah dikenal dunia internasional. Namun di tempat lain di sudut negeri, masih banyak sekolah-sekolah atau pun tempat pembelajaran lain yang begitu menyedihkan kondisinya dan diperparah lagi belum ada perhatian dari pemerintah setempat untuk menangani sekolah tersebut.
Sekarang, dengan istilah lain dan beragam, pemerintah terus dan terus berupaya untuk meningkatkan mutu dengan mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan dari para praktisi pendidikan mengenai kualitas pendidikan di negeri ini, salah satunya dengan tetap dilaksanakannya Ujian Nasional. Dengan meningkatkan standar nilai kelulusan diharapkan mutu pendidikan akan meningkat. Tentunya banyak terjadi pro dan kontra, termasuk juga dalam pelaksanaannya. Tidak bisa dipungkiri, bahwa sebenarnya tidak masalah pemerintah melaksanakan aturan tersebut. Hal ini terbukti dengan prosentasi kelulusan siswa peserta ujian yang dapat melebihi 90%, meskipun nilai ini tidak bisa dikatakan pemerintah dan masyarakat telah berhasil dalam pendidikan. Keberhasilan pendidikan bersifat semu, tergantung sekali dari tujuan pendidikan itu sendiri. Jika berdasar nilai angka, bisa jadi siswa peserta ujain berhasil jika telah dinyatakan lulus. Namun jika kita lebih menilai akan perilaku siswa nantinya setelah terdidik, belum tentu siswa yang dinyatakan lulus telah berhasil pendidikannya. Sayangnya, hal semacam ini kurang disadari pula oleh para tenaga pendidik, karena lebih mengutamakan angka matematik untuk mengukur tingkat keberhasilan pendidikan.
Dan sangat ironis memang, dalam pelaksanaannya, peserta UN tidak sepenuhnya bisa dikatakan lulus jika keberhasilannya dinilai dari hal kedua tadi. Banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama pelaksanaan UN sehingga ujian yang semestinya digunakan untuk dijadikan tolok ukur kemampuan siswa dalam belajar menjadi mentah dan tidak ada artinya. Kecurangan-kecurangan dan pelanggaran tatib pelaksanaan UN ternyata sudah dianggap hal yang lumrah, ditambah lagi dukungan dari sebagian tenaga kependidikan terjadi hal semacam ini. Bisa jadi ini sebagai anggapan yang salah tentang keberhasilan sebuah pendidikan, atau bisa jadi juga untuk mengejar gengsi dan nama yang semu. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita harus membangun bangsa ini dari hal yang terkecil yakni dengan mengoptimalkan pelaksanaan ujian nasional dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.

B. Rumusan masalah
Dalam makalah ini saya mengambil sebuah permasalahan “bagaimanakah cara mengoptimalkan pelaksanaan ujian nasional dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan? “.

C. Tujuan
Untuk mengetahui bagaimana cara mengoptimalkan pelaksanaan ujian nasional dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendidikan di Indonesia
Pendidikan merupakan kebutuhan umat manusia. Sebab pendidikan bisa membentuk manusia yang berbudi pekerti yang luhur dan moral yang baik. Sebagaimana yang kita ketahui, tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia agar beriman dan bertakwa terhadap Allah, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap, mandiri, jujur, serta memiliki rasa tanggung jawab. Itu sebabnya, pendidikan harus mampu mempersiapkan warga Indonesia agar bisa berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, terampil, jujur, berdisiplin, bermoral, dan toleran. Karena itu, pendidikan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia umumnya.
Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.
Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP).

B. Ujian Nasional
Pemerintah telah mengambil kebijakan untuk menerapkan UAN sebagai salah satu bentuk evaluasi pendidikan. Menurut Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2003/2004 disebutkan bahwa tujuan UN adalah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik melalui pemberian tes pada siswa sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah lanjutan tingkat atas. Selain itu UN bertujuan untuk mengukur mutu pendidikan dan mempertanggungjawabkan penyelenggaraan pendidikan di tingkat Nasional, provinsi, kabupaten, sampai tingkat sekolah.
UN berfungsi sebagai alat pengendali mutu pendidikan secara Nasional, pendorong peningkatan mutu pendidikan secara Nasional, bahan dalam menentukan kelulusan peserta didik, dan sebagai bahan pertimbangan dalam seleksi penerimaan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. UN merupakan salah satu bentuk evaluasi belajar pada akhir tahun pelajaran yang diterapkan pada beberapa mata pelajaran yang dianggap penting, walaupun masih ada perdebatan tentang mengapa mata pelajaran itu yang penting dan apakah itu berarti yang lain tidak penting. Benarkah bahwa matematika, IPA, dan Bahasa Inggris merupakan tiga mata pelajaran yang paling penting?
Dalam Peraturan Menteri Diknas No. 45 tahun 2006 mengenai ujian nasional yang selanjutnya disebut UN adalah kegiatan pengukuran dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.

1) Kondisi Ujian Nasional
Kabar yang benar-benar mengejutkan telah diklarifikasi oleh Badan Nasional Standarisasi Pendidikan (BNSP) melalui validasi standar kompetensi lulusan (SKL) UN tahun 2007 yang telah dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, 24 Oktober 2007. Dengan narasumber : Dr. Bambang Suryadi (BSNP) dan Dra. Rahma Julaiha, MA (Puspendik Depdiknas RI). Melalui kegiatan ini telah banyak aspirasi dan pandangan tentang mendadaknya pelaksanaan UN 2008 yang akan dilalui murid-murid SD.
Murid-murid Sekolah Dasar mulai tahun pelajaran ini (2007/2008) akan menjalani Ujian Nasional secara serentak dengan mata pelajaran yang bakal diujikan yaitu Bahasa Indonesia, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Perubahan mata pelajaran Ujian Nasional juga terjadi pada jenjang SMA/MA, jika sebelumnya hanya tiga mata pelajaran, maka tahun pelajaran ini bertambah menjadi 6 matpel. Sementara untuk SMK/ SMALB tidak mengalami perubahan.
Pada tingkat SMP, dari tiga mata pelajaran ditambah menjadi 4 matpel, yakni Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pada rencana teknis pelaksanaan UN nantinya, setiap satu hari ujian siswa akan menghadapi dua mata pelajaran yang diujikan, hanya siswa SMP yang mendapat penambahan hari ujian menjadi empat hari yaitu satu hari untuk satu mata pelajaran yang diujikan.

2) Standarisasi Kelulusan
Menurut Dr. Bambang, standar nilai kelulusan untuk setiap jenjang mulai SMA, MA, SMK, SMP hingga SD semua sama, yaitu rata-rata minimal 5,25 dengan tidak ada nilai di bawah 4,25 (ini kriteria pertama). Khusus untuk siswa SMK nilai mata pelajaran kompetensi keahlian minimal 7,00 dan digunakan untuk menghitung nilai rata-rata UN SMK tersebut.
Apabila kriteria di atas tidak tercapai, maka ada kriteria kedua yang mensyaratkan: boleh terdapat nilai 4,00 hanya pada satu mata pelajaran yang di-UN-kan, dan lima mata pelajaran lainnya harus mencapai nilai sekurang-kurangnya 6,00 dan mencapai nilai rata-rata minimal 5,25.
Penambahan mata pelajaran yang diujikan pada tahun 2007/2008 ini karena selama ini BSNP mendapatkan masukan, bahwa ada ketidakseimbangan tingkat keseriusan antara mata pelajaran yang di-UN-kan dengan yang tidak di-UN-kan. Maka perlu adanya keseimbangan dengan penambahan matpel tersebut, sehingga diharapkan siswa juga menyeriusi mata pelajaran yang tadinya dipandang sebelah mata. Apakah hal ini malah menambah beban pelajar dan membuat angka kelulusan menurun? Jawabnya diplomatis, “Jika proses belajarnya baik dan siswa serius, maka tidak menjadi beban. Apalagi mata pelajaran tambahan ini tahun lalu diujikan juga dalam ujian sekolah. Yang menjadi beban, bila proses belajar mengajarnya tidak baik, prasarana kurang serta minat dan motivasi siswa untuk belajar kurang, meski mata pelajaran yang di-UN-kan sedikit tetap saja menjadi beban”. Pelaksanaan UN tahun 2008 yang semula dianggarkan 500 M ternyata dipangkas oleh DPR menjadi 96 M, sehingga perlu dukungan pemerintah daerah untuk melaksanakan UN ini. Maka Pemda dituntut untuk berada di barisan depan dalam penyelenggaran UN di wilayahnya masing-masing karena sudah dimasukkan dalam pos APBD, untuk biaya pelaksanaan UN ini. Selain itu daerah juga memiliki kewenangan dalam menentukan kelulusan siswa, tidak hanya pusat. Sebab pihak terkait di daerah lebih mengetahui keadaan dan kemampuan siswa serta bahan yang harus diujikan kepada siswa tersebut. Karena Pemda juga mengeluarkan dana dalam menyelenggarakan UN 2007/2008 ini, otomatis ada keseriusan pemerintah daerah untuk mempersiapkan UN 2008 jauh lebih baik dari sebelumnya.

C. Pengaruh Ujian Nasional
Selama diberlakukan UN/UAN terjadi perubahan-perubahan peraturan yang semakin lama semakin memberatkan siswa dan menambah ketegangan dan sikap prustasi di kalangan siswa. Mulai dari batas nilai minimal kelulusan (passing-grade) dan rata-rata nilai kelulusan yang semakin tinggi, penambahan mata pelajaran yang diujikan dalam UN dan proses serta mekanisme perbaikan serta ujian persamaan yang harus ditempuh oleh siswa yang tidak lulus UN. Adapun pengaruh ujian nasional yakni:

1) Positif
Sikap positif dan pro-aktif dari semua pihak, baik siswa, guru (dengan seluruh unsur di sekolah) demikian pula orang tua. Pihak siswa mempersiapkan dirinya dengan berupaya meningkatkan penguasaan materi pelajaran yang akan diujikan. Demikian juga pihak guru dan pihak sekolah, yaitu dengan mengadakan berbagai kegiatan yang memberikan kemungkinan bagi peningkatan penguasaan siswa terhadap matapelajaran yang akan diujikan dalam UN, baik dalam bentuk pemadatan maupun Test Uji Coba (TUC).
Sedangkan para orang tua berupaya membimbing anak-anak mereka di rumah serta memberikan dorongan dan dukungan dengan berbagai cara. Ketegangan-ketegangan yang terlahir dari kekhawatiran yang memuncak yang dikarenakan adanya kenyataan serta berpijak pada informasi media yang memberitakan kegagalan-kegagalan siswa dalam menempuh UN di berbagai sekolah di seluruh pelosok Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan, bahkan termasuk di dalamnya dari kelompok siswa yang berprestasi serta sekolah-sekolah paporit.
Ketegangan yang dialami para guru di setiap sekolah, khususnya guru pengajar matapelajaran yang diujikan dalam UN, disebabkan ada anggapan dalam pemikiran setiap guru bahwa kemampuan dan keberhasilan mereka mengajar sedang diuji dengan indikasi keberhasilan siswanya dalam menempuh UN. Ketegangan tersebut disebabkan oleh adanya tekanan dari Dinas Pendidikan di setiap wilayah yang mentargetkan persentase tertentu dalam kelulusan pada masing-masing sekolah di wilayahnya. Dan tentunya Dinas Pendidikan di wilayah pun tidak luput dari tekanan dan tuntutan dari instansi Pendidikan di atasnya. Mekanisme saling menekan yang sistematis yang secara sistematis pula telah melahirkan UN-pobia di kalangan siswa, para guru dan para pejabat instansi bidang pendidikan di tingkat daerah.
Untuk mengantisipasi ketegangan-ketegangan tersebut, juga sekaligus dalam mempersiapkan dalam menghadapi ujian nasional, pada umumnya dilakukan berbagai persiapan. Dimulai dari pemadatan-pemadatan dalam berbagai matapelajaran yang diujikan dalam UN, yang tidak jarang menyita perhatian pihak sekolah dan siswa sehingga ada kesan menelantarkan atau mengabaikan matapelajaran lainnya. Selain pemadatan, diadakan pula bimbingan belajar (bimbel) dan try-out dalam bentuk TUC (Test Uji Coba) baik yang dilakukan oleh sekolah-sekolah (gabungan beberapa sekolah di setiap wilayah), maupun TUC Dinas Pendidikan di setiap wilayah.

2) Negatif
Standar nilai yang terus meningkat membuat siswa maupun pihak sekolah berusaha keras agar sukses menempuh Ujian Nasional. Bahkan sampai melakukan hal yang tidak jujur sekalipun. Skenario kecurangan yang ditemui adalah intervensi dan intimidasi terhadap pengawas UN. Padahal pengawas sudah ditetapkan dengan sistem silang murni.
Ternyata terjadi kesepakatan/konsensus antara Kepala Sekolah. Kepala Sekolah yang mengutus guru menjadi pengawas memberi arahan agar tidak ketat dalam pengawasan. Selama peserta UN menjawab soal, kami para pengawas tidak boleh menghampiri. Peserta UN dibiarkan saja, walaupun mereka ngerpek, nyontek saling berbagi jawaban. Pengawas baru boleh menegur jika mereka menimbulkan ribut kegaduhan, ketahuan membawa HP atau kalkulator. Seandainya ada pengawas yang melanggar konsensus ini, Kepala Sekolah akan melaporkannya pada Kepala Sekolah asal pengawas. Beberapa orang rekan pengawas bahkan ditarik oleh Kepala Sekolahnya dan diganti dengan guru yang lain karena tidak sanggup mematuhi konsensus ini.
Mengapa terjadi kesepakatan ini? Selama tiga tahun siswa dididik di sekolah agar menjadi siswa yang baik dan jujur. Tapi, di akhir masa studi mereka diperbolehkan atau dianjurkan untuk berbuat curang. Jika saat sekolah sudah terbiasa curang, maka wajar saja kalau menjadi pejabat nantinya melakukan kecurangan yang lebih besar (korupsi misalnya) tidak canggung lagi. Seorang rekan guru bertanya, dimana budi pekerti yang sebelumnya kita tanamkan pada mereka? Kepala Sekolah beralasan meminta pengawas membiarkan saja peserta UN agar mereka tidak tertekan. Pernah terjadi menurut beliau, seorang peserta UN yang sebenarnya rangking 1 gugup dan tertekan psikologisnya lalu tidak mampu menjawab soal dengan baik dan akhirnya tidak lulus. Atau peserta UN pingsan. Mengapa pengawas yang disalahkan?
Semua siswa pasti berharap lulus, begitu juga orang tua, para guru dan Kepala Sekolah. Namun, semuanya tentunya didapatkan dengan jalan yang seharusnya, bukan dengan jalan curang. Tak hanya sekedar tanggung jawab moral. Bukankah setiap perbuatan kita pasti akan dipertanggungjawabkan di hari akhir? Bukankah keimanan dan ketaqwaan mengharuskan kita untuk meyakini dan menyadari hal ini?
Apa yang salah dalam Pendidikan kita? Kita tentunya tidak ingin melahirkan lulusan yang hanya cerdas secara intelektual semata. Too much science, too little faith (terlalu banyak ilmu, terlalu sedikit iman).

D. Mengoptimalkan pelaksanaan Ujian Nasional
1) Memahami makna kelulusan
Sekarang ini makna kelulusan bagi seorang siswa adalah yang terpenting dapat memenuhi standar nilai yang dibakukan dan mendapat predikat lulus dari sekolah. Sebenarnya makna kelulusan bagi seorang siswa merupakan sesuatu yang mutlak dicapai untuk menentukan langkah berikutnya, namun hal ini harus dilakukan secara jujur dan bersaing secara sehat/sportif. Oleh karena itu sangat penting bagi seorang siswa dalam memaknai sebuah arti kelulusan.
2) Transparansi ujian nasional
Untuk mengoptimalkan pelaksanaan ujian nasional, hendaknya dilaksanakan dengan jujur dan transparan agar tidak menimbulkan keresahan-keresahan di tengah masyarakat. Di dalam negeri kondisi ini diperparah oleh keinginan sebagian masyarakat kita yang muncul dengan kondisi kurang memahami akan makna “iklim kompetitif” di dalam prespektif psikologi perkembangan bagi pembelajar. Transparansi tersebut harus dilakukan agar tidaka terjadi kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional tersebut.
3) Tidak tergelincir pada negosiasi politis
Sekarang ini penyelenggara Ujian Nasional pada tahun pelajaran 2004/2005 (Depdiknas) tergelincir dengan negosiasi politis yang telah menetapkan adanya Ujian Nasional Ulang, bagi mereka yang tidak lulus Ujian Nasional (utama maupun susulan). Hal ini akan menjadi sebuah pemikiran yang salah dari siswa karena tergoda dengan adanya ujian nasional ulang.
4) Melaksanakan uji coba
Dalam menghadapi ujian nasional, di setiap-setiap sekolah telah memikirkan solusi dan kiat-kiat agar dapat melaksanakan ujian nasional dengan baik. Berbagai persiapan yang dilakukan kepada para siswa misalnya mengadakan try out, remedial dan pemberian pelajaran tambahan agar siswa dapat menguasai materi-materi yang akan diujikan.
5) Psikologi peserta didik
Dalam pelaksanaan ujian nasional seorang guru sangat berperan penting dalam mempersiapkan mental peserta didik dalam menghadapi soal-soal yang diujikan. Guru tidak hanya memberikan materi pelajaran, guru juga harus memberikan sebuah dorongan dan rangsangan kepada peserta didik untuk percaya diri agar bisa melalui ujian nasional dengan tenang.
6) Mengaktifkan peran orang tua
Selain guru mempunyai peran bagi peserta didik, orang tua juga mempunyai andil yang sangat besar dalam membimbing anaknya untuk menghadapi ujian nasional. Kita sebagai orang tua haruslah bijak dalam menyikapi setiap tingkah laku dan respon anak dalam menghadapi ujian nasional. kita tidak boleh memberikan sebuah tekanan-tekanan dan paksaan yang berat apalagi anak dikaitkan dalam masalah yang dihadapi di rumah.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia salah satunya adalah kita harus mengoptimalkan pelaksanaan ujian nasional. ujian nasional harus dilaksakan dengan optimal agar tidak terjadi kecurangan-kecurangan yang hanya akan merugikan berbagai pihak terutama peserta didik yang sedang menjalaninya.

B. SARAN
Agar pemerintah lebih mengupayakan agar dalam pelaksanaan ujian nasional tidak terjadi kecurangan. Dan tidak memberikan standarisasi nilai yang sangat berat karena dapat menganggu perkembangan psikologi peserta didik.

Daftar Pustaka

Tilaar, H.A.R. 2004. Standarisasi Pendidikan Nasional. Rineka Cipta: Jakarta

http://wawankuswandoro.blogspot.com/2008/01/pendidikan-dan-politik.html

http://www.menkokesra.go.id/content/view/790/39/

http://sawali.info/2008/08/30/ujian-nasional-un-jalan-terus/

http://harian-aceh.com/arsip/index.php?option=com_content&task=view&id=1445&Itemid=34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: